Jumat, 16 Oktober 2020

Tentang KASIH di masa Pandemi

Semilir angin yang bertiup di pagi itu, membuat sosok itu sedikit terhanyut dalam pikirannya yang silih berganti memikirkan inovasi baru untuk bisa dipublikasikan di portal rumah belajar . Begitu banyak hal yang bergentayangan di pikiran sosok itu. Gawai yang dipegangnya, seolah ingin bertanya, ada apa gerangan? namun sayang gawai itu hanya bisa berkedip dan memancarkan sinar saat jemari sosok itu menyentuhnya. Sosok itu sungguh menikmati sejuknya berteduh di bawah pohon Kusambi Pancasila, yang baru diberi nama beberapa pekan lalu, sambil asyik berselancar di Chrome yang ada dalam gawainya. Begitu menikmati. Tiba-tiba, sosok itu dikagetkan oleh sosok lain yang mengajaknya untuk masuk, sambil berbisik, Ayo, kegiatannya akan dimulai! Tombol power pun ditekan perlahan, dan gawai meredupkan layarnya, seakan berkata "sampai jumpa lagi". Tak ada seorangpun siswa di sana, sosok itu sadar, bahwa sekarang masa pandemi. Covid-19 sungguh kejam, membuat hiruk pikuk di bawah pohon Kusambi Pancasila dulunya berubah jadi sunyi. Perbincangan dengan siswa berubah menjadi tatap gawai. sungguh tak ada timbal balik. Tak ada canda tawa. bersentuhan juga seperti aib, seolah di kepala sosok yang dilihat terpampang symbol tanda larang. ah, seperti lagi berseteru di film Zombie, atau mungkin lagi melakonkan peran tunggal dalam sebuah film horor. Sungguh sunyi. Dimanakah sosok-sosok yang dulunya hiruk pikuk dengan seragam abu-abu di sekitar pohon Kusambi Pancasila? sosok itu ingat, bahwa mereka sekarang sedang berada di rumah masing-masing. Seperti dalam permainan petak umpet, sosok itu pun tak mengetahui mereka lagi berbuat apa saat ini. Apakah mereka bersembunyi? ataukah mereka lagi berperang? ataukah mereka lagi berserah diri? There is no answer. Hanya saja gawai yang tadi kadang memberi tahu mereka saat ini sedang apa, lewat sesuatu yang dia bilang notifikasi, dan dengan percaya diri berdering di tengah kesunyian. Dasar gawai. Rindu akan sosok-sosok berpakaian abu-abu itu membuat sosok itu untuk bisa menjalin komunikasi, dan menanyakan kabar mereka saat ini. Apakah mereka harus melewati masa-masa sekolah mereka tanpa mengetahui apapun tentang pendidikan? kasihan mereka, kasihan bangsa ini kalau membiarkan generasinya tak memiliki kompetensi apapun. Dengan semangat, sosok itu pun berkumpul bersama sosok-sosok lainnya yang memiliki rasa yang sama terhadap sosok abu-abu, dengan tetap mengikuti protokol pemerintah. Sosok-sosok itu berdiskusi tentang apa yang akan mereka lakukan. Karena kasih akan sosok-sosok abu-abu itu, akhirnya sosok-sosok itupun menerapkan pembelajaran Online lewat aplikasi zoom dan Google Classroom. sosok-sosok itu tidak hanya berdiskusi, tapi langsung mengaplikasikan apa yang dibicarakannya. Ternyata, betul bahwa sosok-sosok abu-abu itu merindukan sosk-sosok itu. Hal itu dilihat dari begitu antusiasnya mereka menanggapi apa yang dibuat oleh sosok-sosok itu. Hari menjelang senja, daun Kusambi Pancasila mulai terlihat memerah, ternyata karena pantulan sunshet yang mengena daun-daun itu. Angin pun mulai berhembus agak cepat, pohon Kusambi Pancasila bergoyang, seakan-akan dia lagi senang dengan apa yang dilakukan sosok-sosok itu. Ah indahnya berbagi, dan itu semua karena KASIH. Salam kasih dari sosok itu. #withlove #PusdatinKemendikbud #PembaTIK2020 #DutaRumahBelajar2020 #RumahBelajar2020 #BerbagiTIK https://belajar.kemdikbud.go.id/

MARI BELAJAR DI RUMAH BELAJAR

SMAN 3 Borong, salah satu sekolah menengah di Manggarai Timur yang berdiri sejak 2011. Keberadaan sekolah ini tidak terlepas dari genggaman perubahan waktu. Sekolah yang berada di Jawang desa Golo Kantar, sejak berdiri sudah menerapkan Kurikulum Nasional, dan tentu melakukan pembelajaran secara konvensional dan modern. Perkembangan teknologi yang begitu pesat, membuat sekolah ini harus mampu bersaing di era ini. Dengan semangat dan kerja keras dari Kepala Sekolah Pendidik dan Tenaga Kependidikan serta siswa dan dibantu Direktorat PSMA, akhirnya sekolah ini memiliki fasilitas laboratorium Komputer yang cukup memadai. Pada 2019 lalu, sekolah ini mendapatkan bantuan BOS afirmasi berupa IPAD dan Server, yang dikhususkan untuk pengembangan pembelajaran berbasis teknologi, terlebih khusus pada portal Rumah Belajar. Sejak 2019, sekolah ini sudah menggunakan portal Rumah Belajar, walaupun kebanyakan penggunaannya secara ofline dan dalam jaringan Wifi sekolah, pada saat itu sekolah menggunakan VHD Rumah Belajar. Karena masih dilakukan secara ofline, kebanyakan Rumah Belajar digunakan sebagai referensi tambahan bagi guru dan peserta didik. Belum ada penambahan konten yang berasal dari guru sendiri ke dalam portal Rumah Belajar secara Ofline. Melihat dan menyadari akan hal itu, saya selaku Sahabat Rumah Belajar yang lolos dalam pembatik level 4 2020, merasa tergugah untuk berbagi tentang apa yang saya peroleh selama pelatihan pembatik level 4 di Rumah Belajar. Oleh sebab itu, saya mendiskusikan hal ini dengan kepala sekolah dan teman-teman, sehingga pada 07 Oktober 2020, saya melakukan Sosialisasi Portal Rumah Belajar di sekolah. Asyiknya bersosialisasi membuat saya juga tergugah untuk membagikan beberapa hal mengenai Video Converence dan Pembelajaran di masa Pandemi. Melihat manfaat yang cukup besar dari kegiatan ini, dan karena waktu tidak terlalu banyak di hari itu, akhirnya kami sepakat untuk menjadwalkan kegiatan yang sama selama tiga hari. Antusias dari teman-teman guru membuat saya semakin bersemangat untuk berbagi.

Sabtu, 10 Oktober 2020

HARAPAN AKAN SEBUAH PERJUANGAN

Dalam kebingungan, saat mendengar informasi di awal saat dimulainya pendaftaran pembatik, saya mencoba untuk mencari info itu lebih jelas lagi. Saat itu, bermodalkan Zyreks Keluaran tahun 2010 dan  modem 3G saya mencoba searching di browser ternama di dunia maya. Google... tempat yang tepat mencari informasi itu. Setelah sekian lama mencari, akhirnya aku menemukan cara untuk bisa mengakses apa yang saya cari dan ingin mengetahuinya lebih lanjut. 

Ada beberapa hal yang menjadi persyaratan kala itu. Aku berusaha untuk memenujhi semua persyaratan itu, dan akhirnya aku bisa lolos administrasinya. Setelah itu saya diwajibkan untuk membaca dan memperbanyak wawasan saya dengan berliterasi. Ada beberapa modul yang harus saya selesaikan pada saat itu. Dan akhirnya aku bisa masuk di level yang lebih tinggi lagi. Saya dinyatakan lolos untuk masuk di lwvel 2. Seiring berjalannya waktu aku sempatkan diri memvaca beberapa modul yang ada di level 2 dan mengerjakan belbagai tugas yang diberikan kepada saya saat mengikuti pelatihan itu. Dan saya sungguh bersyukur aku dinyatakan lolos pada level ini. Saya memasuki level 3. Di saat yang sama aku harus mengikuti kuliah profesi guru (PPG Daljab). Begitu fokusnya saya untuk mengikuti PPG sehingga saya kurang terlalu memerhatikan modul dan tugas di level 3 debgan maksimal. Dan saya tidak lolos di lwvwl ini. 

Di tahun 2020 saya diberi kesempatan untuk melanjutkan level 3, dan saya pun dengan perjuangan yang keras mengikuti semua arahan dan membaca modul yang ada pada level 3 hingga membuat video pembelajaran sebagai tugas utama pada level ini. Hati sangat gembira tatkala membaca informasi di laman simpatika bahwa saya dinyatakan Lulus Level 3 dan dipilih menjadi salah seorang yang masuk dalam 30 besar Pembatik level 4 NTT.

Semangat baru muncul, Ada motivasi yang sangat kuat dari dalam diri untuk berjuang di level ini. Saya mengikutinya dengan hati yang bahagia. Level 4 ini ternyata bukan sekedar baca, dan buat, dapi lebih dari itu, saya dituntut untuk bisa berbagi. Ada banyak hal yang diberikan oleh pendamping lewat coaching dan kuliah pembatik. Hal itu saya terapkan secara maksimal, sambil mengiktui aturan main di level 4 ini. Ada haarapan yang besar yang sepertinya selalu bergentayangan di pikiran saya. Harapan untuk lolos pada Level ini, dan harapan untuk menuliskan nama yang indah dalam sejarah pendidikan di Indonesia, setidaknya saya bisa ambil bagian untuk inovasi perkembangan pendidikan di Negaraku yang tercinta ini.

Mari berbagi, buka https://belajar.kemdikbud.go.id/ untuk temukan berlbagai inovasi pembelajaran.


#PusdatinKemendikbud #PembaTIK2020 #DutaRumahBelajar2020 #RumahBelajar2020 #BerbagiTIK

Sabtu, 18 Mei 2019

Tari Caci adalah kesenian tradisional sejenis tarian perang yang khas dari masyarakat Manggarai di Pulau Flores, Nusa Tenggara timur. Tarian ini merupakan tarian yang dimainkan oleh dua penari laki-laki yang menari dan saling bertarung dengan menggunakan cambuk dan perisai sebagai senjatanya. Tari Caci ini juga merupakan salah satu kesenian tradisional yang cukup terkenal di Pulau Flores, NTT. Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara seperti saat syukuran musim panen (hang woja), ritual tahun baru (penti), dan berbagai upacara adat lainnya.
TujuanSyukuran musim panen (hang woja), ritual tahun baru (penti), upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya serta dipentaskan untuk menyambut tamu penting
Kegiatan dan tradisiLaki-laki yang berperan sebagai pemukul (disebut paki) berusaha memecut lawan yang berperan sebagai penangkis (disebut ta’ang) yang menangkis pecut lawan dengan perisai
KepercayaanCaci penuh dengan simbolisme terhadap kerbau yang dipercaya sebagai hewan terkuat dan terganas di daerah Manggarai

Berikut Video tarian Caci di Manggarai Timur 
https://www.youtube.com/watch?v=ONettUUW0sc


Tarian TEPI DEA

TEPI DEA, merupakan Bahasa Manggarai yang jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia adalah MENAMPI BERAS.

Pada Zaman masyarakat belum mengenal teknologi modern, orang Manggarai Zaman itu sering menggunakan DOKU (Nyiru) untuk memisahkan beras dan sekam.

Tradisi itu merupakan tradisi turun temurun, sehingga banyak yang mengekspresikannya dalam seni tari. dan ini merupakan warisan kebudayaan Manggarai Timur.

Berikut Link youtube video Tarian Tepi Dea *** Traditional Dance from Manggarai Flores

https://www.youtube.com/watch?v=M1fKO20rcs4

Tentang KASIH di masa Pandemi

Semilir angin yang bertiup di pagi itu, membuat sosok itu sedikit terhanyut dalam pikirannya yang silih berganti memikirkan inovasi baru unt...